Menanti bioskop Islami di bumi亚齐

2019
05/21
06:01

永利皇宫游戏网站/ 国际/ Menanti bioskop Islami di bumi亚齐

2017年12月10日下午1:24发布
2017年12月10日下午1:24更新

节日电影digeed di Gedung Taman Budaya,班达亚齐,2017年12月8日至10日。摄影师Harry Habil Razali / Rappler

节日电影digeed di Gedung Taman Budaya,班达亚齐,2017年12月8日至10日。摄影师Harry Habil Razali / Rappler

BANDA ACEH,印度尼西亚 - Jam baru saja menunjukkan pukul 20:05 WIB saat ratusan muda-mudi Kota Banda Aceh berdiri mengular di halaman Gedung Taman Budaya,Banda Aceh,Sabtu malam,9 Desember 2017。

“Ingin nonton film bang,”kata salah seorang warga kepada Rappler。 Ia harus menunjukkan Kartu Tanda Penduduk(KTP)sebelum bisa masuk ke gedung dan menikmati suguhan gratis ini。

Di dalam gedung,sebuah layar lebar terpampang di depan。 Deretan kursi diatur sedemikian rapi。 Warga杨ingin menonton terus berdesak masuk。 Namun laki-laki dan perempuan dipisahkan。

Alunan musik terdengar perlahan dan bertambah keras。 Tak lama kemudian,semua lampu dalam gedung dipadamkan。 Suasana berubah menjadi gelap。

Secara perlahan,layar lebar mulai menyala diiringi musik pembuka sebuah film。 Penonton senyap,hanya suara电影杨terdengar semakin keras。

Malam itu,电影杨diputar adalah电影nasional'夜间巴士'。 Pemutaran电影ini merupakan satu dari rangkaian acara亚齐电影节(AFF)2017 yang digelar 8-10 Desember 2017。

Ratusan warga antusias menyambut节日电影ini,meskipun Gedung di Taman Budaya Banda Aceh sejatinya bukan gedung bioskop,melainkan hanya gedung biasa yang disulap menjadi tempat pemutaran film。

Semenjak tsunami melanda Aceh pada 2004,bioskop ikut tenggelam dan seakan tidak dapat dibangkitkan lagi hingga kini。

Sejumlah电影lokal Aceh dan nasional dipertontonkan di sana。 节日tahunan ini sebagai tempat untuk menampilkan dan mengapresiasi karya-karya sineas muda Aceh。 Ajang promosi film ini pertama sekali digelar pada 2014 lalu di tempat yang sama。

“Acara ini digelar sebagai apresiasi untuk sineas muda Aceh,nasional dan internasional.Kita melihat perkembangan teman-teman komunitas film di Aceh terus meningkat,”kata Direktur Festival Film Aceh 2017,Jamaluddin Phonna(26)kepada Rappler,2017年9月。

Menurut Jamal,sudah sepantasnya AFF menjadi tempat untuk sineas muda Aceh yang sedang menggeliat。 Apalagi tidak adanya bioskop di Aceh,membuat dunia perfilman Aceh berjalan sangat perlahan。 “Di sinilah kita dapat memutarkan karya-karya mereka,”ujarnya。

Presiden AFF 2017,Fauzan Santa(41),mengatakan festival ini secara khusus dilaksanakan oleh sineas-sineas muda Aceh yang tergabung dalam beberapa komunitas film。 Mereka mencari电影电影terbaru di bioskop sebagai alternatif pengganti bioskop di Aceh。

“Kita cari film-film terbaru di bioskop,kita putar di sini.Kita buat seperti bioskop lah,”kata Fauzan。

Perfilman di Aceh,kata Fauzan,dalam beberapa tahun belakang ini mulai menggeliat。 Meskipun pelan,namun dirinya memastikan akan terus meningkat。 “Kita butuh energi,teman-teman yang punya vitalitas tinggi,”ungkapnya。

Fauzan juga mengatakan ke depannya akan dibentuk sekolah film di Aceh。 Namun ia sedikit prihatin dengan tidak adanya bioskop di Aceh。 Menurutnya,bioskop ialah sebuah perangsang agar menghasilkan karya-karya baru。

“Saat orang menonton dengan suasana yang luar biasa seperti di bioskop,semangat sineas-sineas muda ini akan bangkit,”jelas Fauzan。

Refleksi

亚齐电影节2017年mengusung tema refleksi。 Tema ini mengajak penonton untuk merefleksikan kembali dunia perfilman di Aceh。 Paska海啸2004年,bioskop hilang bak ditelan ombak。 Kehausan warga亚齐akan bioskop,terlihat dengan banyaknya antrian saat menonton bioskop sulapan。

“AFF ini sebenarnya sebuah bukti,bahwa adanya kehausan penonton film di Aceh,yang memang sesudah tsunami tidak lagi merasakan sinema di Aceh,”kata Jamal。

Saat ribuan penonton hadir menyesaki gedung,refleksi adanya bioskop di Aceh terlihat kembali。 Meskipun begitu,Jamal mengaku tidak mampu menyamakan kondisi gedung yang terbatas itu dengan bioskop。

“Kita tidak mampu menyamakan saat film nasional datang ke sini,memang karena keterbatasan teknis,”kata Jamal。 Memang karena keterbatasan itu,beberapa对话电影tidak terdengar白俄罗斯。

Hingga hari kedua AFF digelar,Fauzan mengatakan refleksi yang diharapkan ternyata tidak sepenuhnya tercapai。

Belum terbiasanya warga Aceh menonton film layaknya di bioskop membuat mereka melakukan hal-hal yang sebenarnya memang telah dilarang。 Misalnya,memotret saat film diputar atau pun berbisik yang dapat mengganggu penonton lain。

“Itu akibat kita sudah lama tidak menikmati tontonan yang memiliki kualitas emosional dan dramatik yang bagus,”kata Fauzan。 “Saya kira kita harus banyak memutarkan film seperti ini di tempat yang bagus。”

Bioskop Islami

Wacana untuk membentuk bioskop di Aceh berulang kali diutarakan oleh sineas muda。 Ia pun bagaikan sebuah angan yang timbul tenggelam。 Kerap kali,wacana ini dibenturkan dengan aturan syariat Islam yang berlaku di Aceh。

Fauzan Santa membantah bioskop tidak sesuai dengan nilai syariat Islam。 Ia menjelaskan bahwa bioskop sebenarnya mengajarkan hal-hal yang paling sederhana。

“Misalnya tidak boleh ribut,tidak boleh ini itu,tidak boleh merekam,”kata Fauzan。 Menurutnya,kehadiran bioskop sangat kompromistis dengan nilai kebudayaan Islam di Aceh。

Karena Islam itukan nilai,kata Fauzan,selebihnya adalah kebudayaan Islam yang berbeda di setiap wilayah。

“Kebudayaan itukan berbeda di setiap wilayah.Saya kira masih bisa didialogkan,seperti tempat penonton laki-laki dan perempuan dipisah,film kita sensor,habis-habisan kita potong,”kata Fauzan。

Fauzan memastikan kalau bioskop Islami tidak ada alasan untuk berbuat maksiat。 “Saya kira cukup lumayan untuk kita buatkan bioskop Islami di Aceh,”katanya。

Bioskop Islami ini nantinya akan menerapkan nilai-nilai keislaman。 电影电影杨diputarkan juga akan bersifat dakwah atau kemanusiaan。 “Prinsip Islam itu menutup aurat,kalau masalah baju warna apa itukan suka-suka pemakai。”

Bioskop sebenarnya bukan hal baru di Aceh。 Ia punya masa kejayaannya di Kota Banda Aceh pada era 2000-an(sebelum tsunami)。 Beberapa gedung bekas bioskop itu,kini beralih fungsi menjadi pertokoan atau tujuan lain。

Misal,Sinar Indah Bioskop(SIB)di Peunayong,Jelita Theatre di Beurawe,Garuda Bioskop di Jalan Muhammad Jam,Bioskop Gajah di Simpang Lima,dan Pas 21 di Pasar Aceh。

“Bioskop hilang di Aceh bukan karena dilarang,tapi dia mati sendiri karena keluarnya televisi dan DVD pada waktu itu.Sekarang kita mau menghidupkan pola itu lagi,apa masalahnya?kita bisa negosiasikan,”kata Fauzan。

“Tidak ada bioskop tidak masalah,asalkan ada Festival Film Aceh,”kata Jamal sembari tersenyum。 Festival ini bagaikan sebuah sinar di tengah gelapnya dunia perfilman di Aceh。 Ia sebuah energi baru untuk semangat sineas muda Aceh agar terus berkarya。

Malam semakin larut saat penonton berangsur bubar usai film selesai diputar。 Kehausan mereka akan bioskop di tanah Serambi Mekkah terbayar lunas。 Di hati mereka tersimpan sebuah harap akan hadirnya bioskop Islami di bumi syar'i。 -Rappler.com

免责声明:本文来自永利皇宫游戏网站新闻客户端自媒体,不代表永利皇宫游戏网站的观点和立场。