Ketika pasal penodaan agama jadi alat pembungkam kritik

2019
05/21
14:01

永利皇宫游戏网站/ 国际/ Ketika pasal penodaan agama jadi alat pembungkam kritik

2017年7月10日下午9点02分发布
更新时间:2017年7月10日下午9:02

LUSTRASI。 Sejumlah simpatisan Basuki“Ahok”Tjahaja Purnama menyatakan keprihatinan mereka atas penerapan pasal penodaan agama terhadap Ahok,Sabtu(13/5)。 FOTO oleh Oky Lukmansyah / ANTARA

LUSTRASI。 Sejumlah simpatisan Basuki“Ahok”Tjahaja Purnama menyatakan keprihatinan mereka atas penerapan pasal penodaan agama terhadap Ahok,Sabtu(13/5)。 FOTO oleh Oky Lukmansyah / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Sidang kasus dugaan penodaan agama yang tengah berjalan di Pengadilan Negeri Balikpapan dianggap menjadi contoh ketika pasal penodaan agama membatasi kritik。 Terdakwa Otto Rajasa disebut telah menghina dan menodai agama lewat unggahan di Facebook-nya。

Koordinator Regional SAFENet Damar Juniarto mengkritik Jaksa Penuntut Umum(JPU)yang mengabaikan lemahnya bukti namun tetap menjatuhkan dakwaan。 Bahkan,menuntut yang bersangkutan dengan pidana 3 tahun penjara dan denda Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara。

“Otto Rajasa tidak melakukan tindak pidana penodaan agama dan karenanya layak dibebaskan dari tuntutan hukum,”kata dia saat dihubungi Rappler。

Dengan mendakwa Otto,maka JPU Rahmad Isnaini telah mengabaikan hak untuk berpendapat sebagaimana diatur dalam Pasal 28(E)UUD 1945. Demikian juga dengan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Spil dan Politik yang telah diratifikasi Indonesia lewat UU Nomor 12 tahun 2005。

Belum lagi,kasus Otto ini juga diwarnai tekanan massa,di mana ia disebut menerima ancaman selama berada di tahanan。 “di mana dalam penetapannya sebagai terdakwa telah didahului serangkaian aksi intimidasi dan teror dalam bentuk persekusi,”kata Damar。

Kali ini,keputusan sudah berada di tangan majelis hakim。 SAFENet meminta supaya majelis hakim PN Balikpapan dapat memeriksa dan memutuskan secara teliti keterangan saksi baik ahli maupun fakta dan memberikan putusan yang sesuai。

Kritik dan satir

Dalam keterangan saksi ahli yang didatangkan hari ini,saksi ahli bahasa menyebutkan tulisan Otto adalah kritik sosial。 “Dari postsan tersebut,dia hanya mengutarakan pertanyaan yang kritis dan perlu jawaban dari ahlinya。 Saya melihat ini sebagai bentuk pragmatik,artinya bisa ditafsirkan tergantung penerima atau yang membaca postingan tersebut,“kata Dosen Mah'ad Aly Situbondo,Nahe'i saat memberikan keterangan pada Senin,10 Juli 2017。

Lewat media sosialnya,Otto memang mengkritik Aksi Bela Islam 212,yang kemudian meluas pada unggahan-unggahan sebelumnya terkait persoalan orang kafir dan puasa pada anak-anak。 Bahasa yang digunakan Otto saat menulis disebut Nahe'i sebagai satir。

“达里发布 - 一个terdakwa,saya melihat tidak memenuhi unsur sampai ke level penodaan agama。 Itu hanya sebatas satir dan kritik yang bersangkutan,tidak berdasarkan hukum Islam yang sebenarnya,“kata dia。 Lebih lanjut,tulisan Otto tersebut tidak akan berpengaruh besar kepada orang lain apalagi menyesatkan para pemeluk agama。

Ahli informasi transaksi elektronik Sigit Widodo menambahkan kalau bukti yang dipakai pun kurang kuat。 Pelapor dan jaksa menggunakan bukti berupa cuplikan gambar dari akun Otto。 Unggahan asli telah lama dihapus oleh pemilik akun。

Dalam keadaan seperti ini,cuplikan gambar memang dapat menjadi bukti,namun harus diperiksa dengan metode tertentu oleh pihak ketiga。 “Ini untuk menghindari barang bukti dimanipulasi。 Harus dicek labortarium oleh ahli forensik digital。 Selain itu,发布了一个di media sosial yang dilakukan terdakwa bersifat terbatas di kelompok terbatas,“kata Sigit。

Pasal 156 a KUHP atau penodaan agama tengah marak digunakan untuk melaporkan sejumlah tokoh yang dituding menghina agama tertentu。 Seperti yang paling ramai dibicarakan yakni Basuki“Ahok”Tjahaja Purnama,dan beberapa waktu lalu putra Presiden Joko“Jokowi”Widodo,yakni Kaesang Pangarep。 --Rappler.com

免责声明:本文来自永利皇宫游戏网站新闻客户端自媒体,不代表永利皇宫游戏网站的观点和立场。