Penyesalan terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik yang terlambat

2019
05/21
10:01

永利皇宫游戏网站/ 国际/ Penyesalan terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik yang terlambat

2017年7月13日下午2点26分发布
2017年7月13日下午2:26更新

SIDANG KORUPSI KTP ELEKTRONIK。 Terdakwa kasus e-KTP Irman(kanan)dan Sugiharto(kiri)menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor,Jakarta,Rabu,12 Juli。 Foto oleh Muhammad Adimaja / ANTARA

SIDANG KORUPSI KTP ELEKTRONIK。 Terdakwa kasus e-KTP Irman(kanan)dan Sugiharto(kiri)menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor,Jakarta,Rabu,12 Juli。 Foto oleh Muhammad Adimaja / ANTARA

雅加达,印度尼西亚 - Sidang kasus mega korupsi pengadaan KTP Elektronik kembali digelar pada Rabu,12 Juli di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Pusat。 Jika pada sidang hari Senin kemarin,terdakwa 1 Irman absen karena terserang penyakit diare akut,kemarin dia sudah terlihat sehat dan kuat menjalani persidangan。

Di hadapan majelis hakim,Irman mengaku sehat dan dapat menjalani persidangan yang berlangsung hingga sore hari tersebut。

“Ya,Yang Mulia saya sudah sehat dan sanggup menjalani sidang hingga akhir,”kata Irman yang mengenakan kemeja batik itu。

议程dalam persidangan kemarin yakni mendengarkan nota pembelaan yang dibacakan oleh kedua terdakwa yaitu Irman dan Sugiharto。 Nota pembelaan dibacakan lebih dulu oleh kedua terdakwa dan dilanjutkan oleh tim kuasa hukum keduanya。

Kepada majelis hakim,Irman mengaku menyesali dua hal。 Pertama,dia menyesal karena uang yang pernah ia terima dari tersangka Andi Agustinus tidak langsung ia kembalikan ke Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK)。 Kedua,dia menyesali ketidakmampuannya menghindarkan diri dari berbagai intervensi dari berbagai pihak di luar Kementerian Dalam Negeri saat akan menggolkan proyek pengadaan KTP Elektronik。

Padahal,niat awal KTP Elektronik agar memudahkan bagi pemerintah mendata jumlah penduduk di Indonesia。 Dengan data itu pula,pemerintah bisa lebih mudah dalam memetakan jumlah pengguna hak suara untuk kepentingan pemilu pilpres。

Sayangnya,mantan Dirjen Kependudukan Sipil di Kemendagri itu tidak kuat menghadapi godaan。 Terbukti,dia menerima uang dari Andi Agustinus,salah satu pemilik perusahaan konsorsium untuk proyek tersebut。 Uang yang diterima Irman sebesar US $ 300 ribu atau setara Rp 3,9 miliar(dengan kurs saat ini)。

“Hal ini secara jujur saya akui,saya memang menerima uang tersebut melalui terdakwa 2,Pak Sugiharto。 Tetapi,uang itu akhirnya sudah saya setorkan ke rekening penampungan milik KPK pada 8 Februari 2017,“kata Irman。

Selain,uang sebesar US $ 300 ribu,masih ada uang US $ 273.700,Rp 2,2 miliar dan 6.000美元Singapura yang ia terima dari pihak lain。 Dia menjelaskan uang sebesar US $ 200 ribuan kemudian diserahkan kepada Suciati,yang saat itu menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha Pimpinan di Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil。

Menurut Irman,uang tersebut digunakan untuk menalangi dan membiayai tim supervisi KTP Elektronik。

Yang menarik,uang Rp 2,2 miliar yang juga diterima oleh Irman ternyata ikut diberikan sebagian kepada dua pihak di Kemendagri。 Pertama,kepada mantan Sekretaris Jenderal Kemendagri Diah Anggraeni sebesar Rp 22,5 juta dan mantan Menteri Dalam Negeru Gamawan Fauzi sebesar Rp 50 juta。

Apa yang disampaikan Irman dalam nota pembelaannya jelas bertolak belakang dengan pernyataan Gamawan yang mengaku tidak pernah menerima satu rupiah pun dari proyek pengadaan KTP Elektronik。 Irman pun juga mengaku jika ia turut mengambil uang sebesar Rp 50juta untuk keperluan pribadi。

“Tetapi,uang senilai Rp 50 juta itu sudah diserahkan kepada KPK pada 14 Desember 2016,”katanya。

Di bagian akhir nota pembelaannya,dia berharap Majelis Hakim akan menjatuhkan vonis hukuman yang seringan-ringannya。 Selain karena telah menyesali perbuatannya,Irman juga sudah bersedia menjadi Justice collaborator untuk membongkar kasus tersebut。

Menangis di pengadilan

Sementara,terdakwa 2 Sugiharto sempat menangis ketika membacakan nota pembelaan。 Sugiharto mengaku dapat terlibat dalam pusara proyek KTP Elektronik karena posisinya di Kemendagri。 Itu pun semula dia tidak ingin ditempatkan sebagai Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan Ditjen Kependudukan Sipil。

Ketika dia membacakan bagian akhir pledoinya,Sugiharto mulai meneteskan air mata。 Dia mengaku merasa malu duduk di kursi pesakitan kasus korupsi。 Apalagi,keluarga ikut terpengaruh dalam kasus itu。

“Terima kasih atas dukungan moril yang diberikan oleh keluarga saya,terutama istri dan anak-anak saya。 Saya memohon maaf,karena saya yang melakukan tetapi keluarga yang harus menanggung malu,“kata Sugiharto sambil menangis terisak-isak。

Dia pun menyesal karena ikut terlibat dalam salah satu korupsi terbesar di Indonesia。 Kendati memohon kepada majelis hakim agar menjatuhkan hukuman yang seringan-ringannya,tetapi dia akan menerima dengan lapang dada apa pun keputusan akhirnya。

Dalam sidang penuntutan,Jaksa Penuntut Umum(JPU)menilai keduanya terbukti telah melakukan perbuatan korupsi。 Oleh sebab itu,jaksa meminta kepada majelis hakim agar menjatuhkan hukuman penjara dan denda kepada dua terdakwa。

Irman dituntut hukuman penjara selama tujuh tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta。 Sementara,Sugiharto dituntut hukuman penjara selama lima tahun dan denda Rp 400 juta。 - Rappler.com

免责声明:本文来自永利皇宫游戏网站新闻客户端自媒体,不代表永利皇宫游戏网站的观点和立场。